Monday, June 9, 2008

Of Sinden and Blue Eyes

I was just toying with the remote control, changing the channels, when something very peculiar shown on the TV. A woman, complete in her authentic Javanese Kebaya, was singing as a sinden. What’s amazing is that, she is not a Javanese, not even Indonesian. She is in fact a leggy Caucasian woman born in Wisconsin, USA.

She was sitting there among the other sindens and belted some pitch perfect Kromo Inggil (Javanese Language of the highest caste - according to my wife who is from Malang). She also dance and mime in a flexibility often attributed to the most veteran of dancers.

My wife and I were just sitting there with our collective jaws hit the floor.

Now being a sinden is not like your run of the mill singing technique. It requires theatrical ability, wide range of pitch control with atypical (pentatonic?) notes, and most importantly the comprehensive grasp of Javanese language and folklore. That made the achievement of one Karen Elizabeth Sekararum all the more remarkable.

The number of professional sinden across the nation has been in a steady decreasing trend for quite sometime now. This is inline with the decreasing number of Wayang Show – Indonesian traditional puppet, confirmed by Tribun Indonesia, a local newspaper.

With young ones like us pursuing careers that would make all of our parents proud. Working as engineer, IT geek, architect, and other field deemed more promising financially. Even those into art, prefer western type of art such as hip-hop, R&B, and break-dance. Traditional heritage has been neglected over the years. It is encouraging to see the attention is now gaining momentum.

After some Google research, I found out that there are other budding foreigner sinden around, apart from Mrs. Sekararum. One Briton by the name of Esther Wilds, a Chinese descendant Meyling Sri Bowo. and another American, Susan Pratt Walton.

Several shows has been a sell out, with people intrigued by the sight of white women singing Babad Tanah Jawa. They could even let slip some English during the show, with the audience all laughing and amused. It was fantastic.

If Karen Elizabeth could fall in love with Indonesian art and culture. Indonesians should be even more proud that our traditional art can be as admirable as that of foreign culture. Hopefully not only our government authority but the private sector able to seize this opportunity to introduce them to broader audience.

With the world having a better appreciation of our cultural history, might as well become a counter balance of all the negative issues that has blighted our nation’s journey.

Note:

12 comments:

  1. wahaa..aku nonton dia di empat mata 2x..
    terkagum-kagum..wah...dia aja begitu cintanya dgn budaya Indonesia ya..
    ckckck...

    ReplyDelete
  2. Oiya iya, kata temen2 ada di acara empat mata ... :)
    Aku waktu itu liat di JTV By hahaha tv nya wong jawa timur.

    Rupanya dia dah cukup terkenal, trus menikah sama seorang dalang dari Malang ...

    ReplyDelete
  3. Suaminya Si Elizabeth tu Dosen UM (Universitas Negeri Malang) belakang kantorku. Kecantolnya kan pas Elizabeth jadi mahasiswi transferan STSI Solo, dan dari situlah jodoh didapat...hehe...Pak Soleh nama suaminya, dan dia sekarang mengelola sanggar seni di Tumpang. Anak2nya Elizabeth cakep2 lho, dilatih seni tradisional dan modern.....

    ReplyDelete
  4. Ooo :D hehe wah makasih Cak Info nya.
    Bagus banget kalo anak-anaknya diajarin seni tradisional juga ... bisa buat gantiin peran orang tuanya kelak.

    ReplyDelete
  5. dari 2 anaknya, salah satunya pinter ndalang, padahal cewek lho...tapi dia juga belajar balet, biar imbang

    ReplyDelete
  6. Wuehehe, cewek bisa ndalang dan balet ...trus berdarah indo pula ... keren abis

    ReplyDelete
  7. Ada lagi....medhok Jowo...entah apa dia diajari bahasa Inggris ya? mungkin iya..Wong si Elizabeth aja bahasa Jawanya mlipis banget kok, kita2 yang Jawa tulenpun kalah persis...hahahahaha

    ReplyDelete
  8. Iya kok bisa gitu ya, dia nya emang berbakat dan tekun belajarnya kali ya.
    Kalau orang Jawa tulen kan biasanya karena dipake sehari-hari plus campur bahasa Indonesia, jadi mungkin gak banyak yang terlalu merhatiin struktur, kosa kata, dan tata basa Jawa yang beneran-nya.

    Makanya keren deh Cak Nono suka nulis-nulis soal bahasa Jawa di blognya :)

    ReplyDelete
  9. Kayaknya masih terus kok...aku banyak belajar kok..malah coba2 make dalam percakapan harian...:)

    Elizabeth katanya jatuh cinta dengan budaya Jawa waktu orangtuanya ditugaskan di Jogja saat usia 3 tahun...dia pun sampai fasih bahasa Jawa karna kumpulannya dg anak2 kampung disana. Balik ke Chicago lagi, dan 20 tahun kemudian (kira2 tahun 89) dia balik ke Indonesia...ya gitu dech nyantol sampai sekarang. Diapun karyawan tetap di JTV (TV swasta lokal Jawa Timur) dan mengasuh acara Elizabeth Nyinden tiap malam minggu jam 11 malam

    ReplyDelete
  10. Naah, acara itu tuh yang aku tonton, pas lagi ganti-ganti channel ada JTV, bagus banget. Istri ku juga jadi sering cari dan nonton itu minggu-minggu terakhir ini.

    Animo masyarakat Jawa Timur dan sekitar nya meningkat gak Cak sama Dalang, Wayang, dan Sinden akhir-akhir ini ?

    ReplyDelete
  11. Kalau disini masih subur kok meski sekarang banyak ndangdutannya. Campursari tetep populer, dan ditayangkan di TV-TV lokal di Jawa Timur...Malang aja ada 5-6 TV lokal...malahan ada yang mau mengudara lagi...Belum Kediri, Pasuruan, Madiun juga punya TV lokal sendiri2...pastinya tayangan tradisional tetap jadi menu utama.

    ReplyDelete
  12. Wah info yang menyenangkan, di tengah gempuran globalisasi masih banyak yang bisa melestarikan identitas lokal dan tradisional. Saya tadinya khawatir kalo dalang dan wayang makin lama makin langka.

    Makasih info-nya Cak :)

    ReplyDelete